Social Media

Tanda orang yang mengandalkan amal (Terjemah Kitab Al-Hikam)

HIKMAH I


himah1


Tanda orang yang mengandalkan amal

مِنْ عَلَامَةِ الْإِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وَجُوْدِ الزَّلَلِ

“Diantara tanda-tanda orang yang mengandalkan amal perbuatannya adalah kurang adanya pengharapan kepada rahmat Allah sewaktu terjadi kesalahan pada dirinya.”
Manusia tidak bisa luput dari kesalahan. Semua orang pasti menjalankan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Kecuali Rasulullah saw. sebab beliau orang ma’shum artinya selalu dijaga dari berbagai macam dosa.

Karena sifat manusia yang demikian itu, maka kita sebagai umat manusia diwajibkan untuk selalu menharapkan rahmat Allah dan Ampunan-Nya. Jangan sekali-kali enggan mengharapkan rahmat-Nya walaupun kita berbuat salah. Keenggannan dan kurang adanya pengharapan seseorang akan rahmat Allah setelah menjalankan kesalahan itu merupan suatu pertanda dia hanya mengandalkan amal perbuatannya sendiri, mengesampingkan sifat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Seharusnya orang yang berbuat dosa atau menjalankan kesalahan bahkan giat mengabdi kepada Allah serta mengharap ampunan-Nya sebanyak-banyaknya.

Andaikata, banyak orang yang berbuat dosa, lalu beranggapan bahwa Allah tidak akan memberi ampun kepadanya dan tidak akan memasukannya ke dalam surga kelak, maka anggapan demikian itu tidaklah benar. Karena bisa menyebabkan orang putus asa sehingga berkuranglah pengharapannya kepada rahmat Allah. Firman Allah:

وَ لَا تَيْئَسُوْا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Demikian pula, wajib bagi orang yang telah menjalankan keta’atan kepada Allah, jangan sekali-kali beranggapan bahwa dirinya termasuk orang “ahli ta’at.” Jangan pula beranggapan bahwa keta’atannya bisa mendekatkan dirinya kepada Allah dan dapat menyebabkan masuk surga. Sebaliknya ia harus beranggapan bahwa keta’atan yang telah dijalankan itu semata-mata adalah anugrah Allah. Jadi ta’at dijalankan seseorang bukanlah karena amalnya, melainkan karena adanya anugrah dari Allah. Dengan berbuat seperti ini orang akan terhindar dari rasa congkak dan sombong, tidak mengandalkan amal perbuatannya dan usahanya sendiri.

Ingat peristiwa yang terjadi pada Iblis dan Qarun.? Iblis diperintahkan oleh Allah untuk sujud kepada Adam. Karena Iblis menganggap dirinya lebih baik dari Adam, ia menolak perintah Allah. Padahal semestinya dia harus ingat bahwa kelebihan dirinya -menurut anggapannya- semata-mata karena adanya anugrah dari Allah. Karena perilaku Iblis yang demikian itulah akhirnya dia dilaknat oleh Allah selama-lamanya.

Qarun pun demikian juga. Dia malang melintang melanggar hukum Allah dengan kekayaannya, karena beranggapan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu berkat kepandaiannya dalam ilmu kimia. Dia lupa bahwa ilmu kimia yang dimilikinya itu sebenarnya anugrah Allah. Tanpa anugrah-Nya, mustahil orang dapat berbuat sesuatu.

Perhatikanlah firman Allah yang berkenan dengan Nabi Sulaiman:

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا ءَاتِيْكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَ مَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ 

“Berkataslah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matahari berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, iapun berkata: “ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencobaku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanlu Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QA. An-Naml: 40).

Oleh sebab itu kewajiban bagi setiap orang yang menjalankan maksiat agar memperbanyak ibadahnya, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya bagi orang yang selalu ta’at menjalankan perintah Allah, tidak patut mengharapkan pahala dari amal taatnya. Sebab manusia bukanlah yang menjadikan amal perbuatannya, melainkan Allah-lah yang menjadikan amalnya itu.
Jadi yang mesti dilakukan oleh orang yang telah menjalankan ketaatan adalah memperbanyak rasa syukur kepada-Nya karena tidak dijadikan sebagai orang yang ahli maksiat. Selalu bersandar kepada Allah adalah sifat orang yang ma’rifat. Sedangkan bersandar kepada selain Allah adalah sifat orang-orang bodoh yang lupa kepada-Nya.

و الله أعلم بالصّواب

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tanda orang yang mengandalkan amal (Terjemah Kitab Al-Hikam)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel