Macam-macam hukum Islam beserta penjelasannya

Macam-macam hukum Islam beserta penjelasannya

Tidak sedikit orang keliru ketika berbicara tentang hukum Islam. Maka dari itu, perlu diketahui pembagian hukum dalam Islam, yaitu terbagi menjadi 3, yaitu: Hukum Syara’ (Agama), Hukum Adat, dan Hukum Akal.

Berikut ini merupakan macam-macam hukum Islam beserta penjelasannya

Pengertian hukum secara umum, yaitu:
الحُكْمُ هُوَ إِثْبَاتُ أَمْرٍ أَوْ نَفْيُهُ (أمّ البراهين)
Artinya: Menetapkan suatu perkara atau meniadakannya.

A. Hukum Syara’
Adapun yang dimaksud dengan hukum syara’ yaitu:
الحُكْمُ هُوَ خِطَابُ اللهِ المُتَعَلَّقُ بِأَفْعَالِ الْمًكَلَّفِ إِقْتِضَاءً أَوْ تَخْيِيْرًا أَوْ بِأَعَمِّ وَضْعًا (لبّ الأصول)
Artinya: Titah Allah yang berkaitan dengan seluruh pekerjaan seorang mukallaf (berakal, dan baligh) yang berupa tuntutan, kebebasan memilih, atau berkenan dengan sesuatu yang lebih umum secara kepastiannya.

Mengacu pada definisi hukum syara’, hukum diklasifikasikan menjadi dua: taklifi dan wadh’i. Hukum taklifi adalah khithab yang berkaitan dengan pekerjaan seorang muakallaf, baik dalambentuk tuntutan atau memberi kebebasan untuk melakukan suatu pekerjaan. Dari bentuk ini, hukum taklifi diklasifikasikan menjadi enam, yaitu:

1. Wajib, yaitu khithab khitab yang menunjukkan tuntutan untuk mengerjakan suatu pekerjaan secara tegas, tidak boleh ditinggalkan. Seperti wajib melaksanakan shalat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan.
2. Sunnat, yaitu khithab yang menunjukkan tuntutan untuk mengerjakan suatu hal dengan tuntutan yang tidak tegas, sebatas anjuran yang boleh ditinggalkan. Seperti melaksanakan shalat dhuha dan tahajud. 
3. Haram, yaitu khithab yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan suatu hal dengan tuntutan yang tegas, tidak boleh dikerjakan. Seperti mabuk dan zina.
4. Makruh, yaitu khithab yang menunjukkan tuntutan yang tidak tegas untuk meninggalkan suatu hal dengan larangan secara khusus. Seperti tidak shalat tahiyyatul masjid, ketika mmemasuki masjid.
5. Khilaf al-Aula, yaitu khithab yang menunjukan tuntutan yang tidak tegas untuk meninggalkan suatu hal tanpa larangan secara khusus. Akan tetapi larangan tersebut dipahami dari perintah melaksanakan suatu pekerjaan. Karena perintah untuk mengerjakan suatu perkara berarti melarang untuk meninggalkannya. Seperti larangan meninggalkan shalat dhuha, karena ada perintah untuk mengerjakannya.
6. Ibahah/Mubah, yaitu, khithab yang menunjukkan kebebasan untuk meninggalkan atau mengerjakan suatu hal. Seperti sindiran-sindiran untuk meminang seorang wanita.
Adapun hukum wadh’i yaitu khithab Allah yang menunjukkan peletakan sesuatu sebagai sebab, syarat, mani’, sah, atau fasid.

B. Hukum Adat (Kebiasaan)
Adapun yang dimaksud dengan hukum adat yaitu:

وَ هُوَ إِثْبَاتُ الرَّبْطِ بَيْنَ أَمْرٍ وَ أَمْرٍ وَجُوْدًا أَوْ عَدَمًا بِوَاسِطَةِ التَّكَرُّرِ الْقِرَانِ بَيْنَهُمَا عَلَى الْحِسِّ (أم البراهين)
Artinya: Menetapkan adanya keterkaitan antara suatu perkara dengan yang lainnya, baik dari tinjauan adanya ataupun ketiadannya, disebabkan sering terjadi diantara keduanya secara hissi (dhahir/ panca indra).

Seperti halnya, sudah menjadi hukum adat ketika adanya api pasti ada pula terbakar atau panas. Dalam hal ini lebih kepada kajian Ilmu Tauhid. Karena yang perlu kita yakini bukan api yang membakar, karena api tidak memiliki kekuasaan (daya) untuk membakar, melainkan hanya Allah SWT. Maka kasus tersebut hanya sebagai adat kebiasaan ketika ada api maka ada yang terbakar semua merupakan sunnatullah.

C. Hukum Akal 
Definisi hukum akal:

وَهُوَ عِبَارَةٌ عَمَّا يُدْرِكُ الْعَقْلُ ثُبُوْتَهُ وَ نَفْيَهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّفٍ عَلَى تَكَرُّرٍ وَ لَا وَضْعٍ وَاضِعِ  (أمّ البراهين)
Artinya: Suatu ibarat dari penemuan akal atas tetapnya suatu perkara, atau meniadakannya, serta tidak menunggu kejadian yang berulang-ulang atau menetapak hukum.

Contoh seperti setiap dzat pasti memiliki sifat, seperti batu memiliki sifat berat. Akal akan langsung menerka bahwa batu itu berat.
Pada pembagiannya, hukum akal terbagi menjadi tiga, yaitu wajib, mustahil, dan jaiz.

Salam, literasi. 

0 Response to "Macam-macam hukum Islam beserta penjelasannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel