Banyak Wartawan Gadungan Datang ke Sekolah-sekolah

gambar wartawan
ilustrasi

Sepertinya pencarian uang yang dilakukan dengan cara yang " normal " akan sangat sulit mengingat kodrat manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan demi kebutuhan sehari-hari rupanya menjadi alasan utama sebagian orang yang mengaku sebagai " wartawan " padahal sejatinya mereka hanya abal-abal yang menggantungkan harapan untuk mendapatkan sedikit pemasukan dari dinas khususnya ke sekolah-sekolah yang ada di Cianjur.

Kenapa dalam artikel ini kami muat sebagai aktualita ? mengingat saya sebagai orang yang baru hidup di dinas pendidikan ( guru SD ), dalam satu bulan ada sekitar 2 atau 3 kali yang mengaku dari awak media. Memang ketika ditagih surat perintah dan kartu anggota dengan sigap mereka berikan sebagai tanda bukti, tapi mungkin didapatkan dengan cara yang tak lazim.

Sebenarnya mereka hanya mengharapkan pemberian dari kepala sekolah saja, adapun fungsi dan tugas jurnalistik justru tidak dilakukan, toh kalau tercium bau penyalahgunaan wewenang yang dipegang kepala sekolah atau guru dalam hal ini terkait BOS jarang disinggung. Yang disinggung hanyalah pembicaraan hangat yang tak menjurus, tidak meluangkan waktu lama asalkan kepala sekolah memberikan uang tips agar wartawan abal-abal tersebut segera angkat kaki dari kantor sekolah.
Pemberian uang tips tersebut sebenarnya menjadikan celah yang sangat besar untuk mereka kembali lagi " memangkas " kantong KS dalam kunjungan  selanjutnya.

Uang tersebut tidak jadi masalah jika sumbernya dari " uang paksa " KS, akan tetapi jika sumbernya dari dana BOS justru sangat bertentangan dengan aturan ataupun pos-pos penggunaan dana BOS yang terdiri dari 11 komponen.

BOS hanya boleh digunakan untuk Pengembangan Perpustakaan, Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru, Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler, Evaluasi Pembelajaran, Pengelolaan Sekolah, Pengembangan Profesi Guru, Langganan Daya dan Jasa, Pemeliharaan dan Perawatan Sekolah, Gaji Honorarium Guru, Pembelian atau Perawatan Alat Multi Media Pembelajaran dan biaya lainnya jika semua komponen telah terpenuhi pendanaan dari BOS sedangkan dana untuk wartawan gadungan tidak ada jatah sama sekali.

" Mereka yang mengaku dari awak media justru memiliki derajat yang hampir sama dengan Pengamen jalanan, yang membedakan hanyala dari segi pengetahuan dan kekebalan hukum siluman yang dibawanya "

Sebagai orang awam, prasangka buruk pasti akan ada selama praktek tersebut masih terlihat dengan mata telanjang, tampaknya pencarian materi melalui sekolah-sekolah sudah lazim dilakukan oleh orang pemalas yang mengatasnamakan media.

Sudah jelas pula ini merupakan bentuk pencatutan nama baik media jurnalistik yang banyak didegungkan sebagai warga negara yang netral dan mengawasi jalannya kepemimpinan ataupun sisi sensitif kehidupan masyarakat sekitarnya.