Anak-anak Pelaku Bom di Surabaya Punya Cita-cita tak Biasa

keluarga terduga pelaku bom surabaya, credit: tempo.co

Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan salah satu anak dari pelaku bom bunuh diri di Surabaya mempunyai cita-cita tak lazim, “Pernah ditanya, apa cita-citanya. Dia menjawab, ingin mati syahid,” ucap Risma melalui siaran pers, Senin, 14 Mei 2018 seperti dikutip dari laman tempo.co.

Selain mempunyai cita-cita yang tak lazim, anak pasangan Pengebom Dita Oepriarto dan istrinya, Puji Kuswari tidak mau belajar Pendidikan Kewarganegaraan dan menolak ikut upacara bendera, hal ini sudah sangat jelas bahwa doktrinasi terhadap anak yang dilakukan orangtuanya sangat melekat dan bertentangan dengan pendidikan yang ada di Indonesia dimana PKN merupakan pelajaran wajib sebagai penyemangat nasionalisme.

Atas kejadian ini menekankan kepada kita agar lebih waspada tapi tidak harus takut dengan teror yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu, guna mengantisipasi aksi teror di Indonesia maka kita harus menjaga baik lingkungan tetangga dan keluarga dengan pendekatan yang sesuai dengan hukum yang berlaku.

Bila ada tamu atau orang yang mencurigakan jangan langsung ditindak, akan tetapi dilaporkan kepada pihak berwenang, dalam hal ini " kegirangan " perangkat masyarakat yaitu Rt dan Rw agar lebih aktif lagi dalam memimpin masyarakat.

Sebagai masyarakat yang berlogika, tidak bisa disimpulkan bahwa aksi terorisme berada dibawah naungan islam, yang jelas semua agama mengharamkan pembunuhan dalam hal ini agama islam yang selalu disalahkan oleh banyak orang sehingga gaungan islamophobia kian kuat diberbagai negara dan media sosial.

Yang jelas islam adalah agama yang toleran, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan membenci aksi pembunuhan, semoga kejadian serupa tidak terulang kembali dan Indonesia tetap damai serta lawan teroris.