Peta Budaya Seni Tradisioanal Sisingaan dari Subang

foto sisingaan

Sisingaan merupakan salah satu seni tradisional kebangggan kabupaten Subang, hingga kini kesenian tersebut masih lestari dan biasanya diadakan sebuah festival tepat pada 5 April setiap tahunnya.
Kesenian ini juga biasanya disebut dengan istilah Gotong Singa atau Odong-odong, bagi masyarakat Subang, kesenian ini menjadi ikon tersendiri karena seni ini sudah menjamur di Indonesia hingga mancanegara. Penyesuaina nama Sisingaan mengandung filosofi tersendiri yaitu menunjukan bahwa masyarakat Subang mempunyai semangat nasionalisme yang tinggi terhadap kedaulatan Republik Indonesia.
foto acara sisingaan


Kesenian ini sudah dimainkan sejak zaman dahulu tepat pada masa penjajahan Belanda sebagai bentuk pelecahan terhadap penjajah yang mengeruk hak-hak bangsa Indonesia secara umum dan Subang secara khusus. Anugerah terbesar ini membangkitkan semanga juang masyarakat Subang dalam menumpas bentuk kejahatan terorganisir yang dilakukan oleh Belanda.
Sisingaan hingga sekarang masih dilestarikan sebagai nilai tradisi dan seni berlanjut, selain selalu diakan festival pada 5 April, kesenian ini juga biasanya ditampilkan ketika ada sambutan kehormatan, acara khitan anak ataupun perayaan hari-hari besar.
sisingaan anak
sisingaan ditampilkan oleh anak-anak

Sejarah Sisingaan

Pada tahun 1982, pemerintahan Belanda berkuasa di Kabupaten Subang yang saat itu dikenal sebagai daerah Double Bestuur dan dijadikan kawasan perkebunan dengan nama P&T Lands (Pamanoekan en Tjiasemladen).

 Masyarakat Subang mulai diperkenalkan dengan lambang negara mereka yaitu Crown atau mahkota kerajaan. Pada saat yang bersamaan, Subang juga dikuasai oleh Inggris dan diperkenalkan dengan lambang negaranya yaitu Singa. Sehingga secara administratif, Subang dibagi ke dalam dua bagian yaitu : secara politik dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.

Karena hal tersebut, masyarakat Subang mengalami tekanan secara politik, ekonomi, sosial dan budaya sehingga menimbulkan sikap perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Inggris. Sikap perlawanan tersebut diekspresikan secara terselubung melalui sindiran, perumpamaan dan penokohan yang sesuai dengan keadaan mereka saat itu.

Salah satu ekspresi jiwa yang diwujudkan adalah dengan membuat kesenian bernama Sisingaan yang melambangkan rasa ketidakpuasan dan upaya pemberontakan kepada kaum penjajah. Penjajah Belanda beranggapan bahwa Sisingaan hanyalah karya seni yang diciptakan secara sederhana dan spontanitas untuk menghibur anak penduduk pribumi pada saat dikhitan.

Awal munculnya sisingaan hingga pada masa sekarang adalah singa abrug. Singa abrug adalah permainan Sisingaan yang dimainkan oleh pemain yang aktif menari ke sana kemari dan patung singa yang dimainkannya seperti akan diadu. Singa abrug pertama kali berkembang di daerah Tambakan Kecamatan Jalan Cagak. Sisingaan dibuat dengan sangat sederhana, muka dan kepala singa dibuat dari kayu ringan seperti kayu randu atau albasiah, rambut Sisingaan dibuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus.

Sedangkan badan Sisingaan terbuat dari carangka (kerajinan anyaman bambu) yang besar dan ditutupi oleh karung kadut (karung goni) atau ada pula yang dibuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan. Untuk usungan Sisingaan dibuat dari bambu yang dipikul oleh empat orang.

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan.

Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota, sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Didalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug

Adapun Peralatan Yang Digunakan Dalam Permainan Sisingaan Antara Lain:

Dua atau empat buah usungan boneka singa. Rangka dan kepala usungan boneka-boneka singa terbuat dari kayu dan bambu yang dibungkus dengan kain serta diberi tempat duduk di atas punggungnya. Bulu-bulu yang ada di kepala maupun ekor dibuat dari benang raffia sehingga bersifat permanen dan dapat digunakan berkali-kali. Pada awal munculnya Sisingaan, usungan yang berbentuk singa ini terbuat dari kayu dengan bulu dari kembang kaso dan biasanya dibuat secara dadakan pada waktu akan mengadakan pertunjukan sehingga bersifat tidak permanen dan hanya sekali pakai.

Waditra yang terdiri dari : dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak), terompet, tiga buah ketuk (bonang), kentrung (kulanter), gong kecil, dan kecrek. -
busana pemain yang terdiri dari celana kampret/pangsi, ikat barangbang semplak, baju taqwa dan alas kaki tarumpah atau salompak.

Sisingaan terdiri dari 8 orang pengusung Sisingaan, sepasang patung Sisingaan, penunggang Sisingaan, waditra, nayaga, dan sinden atau juru kawih. Secara filosofis, 4 orang pengusung Sisingaan melambangkan masyarakat pribumi yang ditindas oleh kaum penjajah, sepasang patung Sisingaan melambangkan 2 penjajah (Belanda dan Inggris), penunggang Sisingaan melambangkan generasi muda yang suatu saat harus mampu mengusir penjajah, dan nayaga melambangkan mayarakat yang gembira atau masyarakat Subang yang berjuang dan memberi motivasi terhadap generasi muda untuk dapat mengalahkan dan mengusir penjajah dari tanah air mereka.

Para pemain ini adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena dalam sebuah pertunjukan sisingaan yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan sambil menggotong boneka singa dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para nayaga.

Makna Yang Terkandung Dalam Pertunjukan Seni Sisingaan


  1. Makna sosial: kepercayaan masyarakat Subang bahwa jiwa kesenian sangat berperan dalam diri mereka seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.
  2. Makna teatrikal: penampilan Sisingan berupa drama penokohan teatrikal dan ditambahkan dengan berbagai variasi seperti jajangkungan, sinden, dan lain-lain. 
  3. Makna komersial: karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Subang.
  4. Makna universal: pada setiap etnik, sering kali dijumpai pemujaan terhadap singa karena kebuasannya. Meskipun Jawa Barat tidak terdapat habitat singa, namun dengan konsep kerakyatan maka singa dapat dikenal dan diterima sebagai seni tradisional Sisingaan. 
  5. Makna Spiritual: masyarakat Subang percaya bahwa seni tradisional Sisingaan sebagai wujud keselamatan atau syukuran atas rejeki yang telah dianugerahkan Tuhan.

Kesenian Sisingaan ini umumnya ditampilkan pada siang hari dengan berkeliling kampung pada saat ada acara khitanan, menyambut tamu agung, pelantikan kepala desa, perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya. Durasi sebuah pementasan sisingaan biasanya memakan waktu cukup lama, bergantung dari luas atau tidaknya kampung yang akan dikelilingi.


  1. Sisingaan diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok.
  2. Anak yang akan dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki boneka singa.
  3. Alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu-lagu yang berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan.
  4. 8 orang pemain akan mulai menggotong dua buah boneka singa (satu boneka digotong oleh 4 orang).
  5. Pemimpin kelompok memberikan aba-aba kepada para pemain untuk melakukan gerakan tarian secara serempak dan akrobatis.
  6. Lagu-lagu yang dimainkan sebagai pengiring tarian biasanya diambil dari lagu kesenian Sunda.
  7. Sisingaan dilakukan sambil mengelilingi kampung hingga akhirnya kembali ke tempat semula. Dengan sampainya pada penari ke tempat semula, maka pertunjukan Sisingaan berakhir.

Sebagai rasa syukur kita sebagai warga negara, Indonesia terdiri dari ratusan kesenian tradisional yang sangat harum ke seluruh dunia. Hal ini merupakan kebanggaan kita, namun sebagai penerus bangsa sudah seharusnya nama tersebut bukan hanya identitas saja melainkan ikut dilestarikan oleh seluruh elemen masyarakat sehingga nama Indonesia tetap bertahan sesuai dengan semangat Sisingaan yang kental dengan patriotisme dan nasionalisme.
Sumber : kemendikbud

Related Post

Next
Previous