Home » » Ancaman Globalisasi terhadap Nasionalisme

Ancaman Globalisasi terhadap Nasionalisme

Globalisasi merupakan penyatuan kehidupan manusia yang tidak mengenal batas,geografi ataupun prilaku sosial.Kemajuan pesat di dibidang teknologi dan komunikasi memaksa manusia untuk menembus batas-batas negara yang bisa dikendalikan dari luar atau jarak jauh dalam hal ini terkait dengan bisnis dan komunikasi. Banyak pengamat mengungkapkan bahwa globalisasi menjadi ancaman serius yang akan memudarkan semangat nasionalisme warganya sehingga kemajuan suatu negara akan sulit terwujud.
gambar ilustrasi nasionalisme
lahiya.com

Kemajuan pesat di bidang telekomunikasi dianggap akan menghilangkan identitas suatu negara sehingga nasionalisme akan kehilangan wujud aslinya dan kemudian berganti menjadi universalisme dimana masyarakat akan menjadi warga dunia bukan warga suatu negara yang letak geografisnya sudah jelas. Namun ada juga yang berpendapat bahwa globalisasi tidak akan melepas identitas suatu negara sehingga perbincangan terkait nasionalisme masih bisa diterima dengan baik dan masih relevan hal ini didasarkan pada :

1. Manusia adalah makhluk yang netral dan berakal
Kita sebagai makhluk ciptaan-Nya sudah dibekali dengan akal,perasaan dan budaya masing-masing,oleh karena itu kebudayaan harus menjadi bagian dari kehidupan dan jangan dikorbankan dalam globalisasi. Kebudayaan merupakan buah seni yang bernilai estetis dan menjadi aset tetap kelangsungan proses globalisasi yang semakin beranekaragam Jika tidak dilandasi dengan hal ini maka kehidupan manusia akan terasa hambar karena tanpa seni dan budaya.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya budaya dan seni yang terdiri dari kalangan etnis,suku dan diadopsi dari sebuah agama yang dianutnya, kebudayaan lokal yang belum terpanggil di kancah nasional akan menjadi budaya yang menyeluruh menjadi kebudayaan nasional. Jika pemikiran ini diterapkan maka kebudayaan nasional akan menjadi kebudayaan global. Bisa anda perhatikan dibelahan dunia , tarian Indonesia seperti Reog Ponorogo,Tari Saman,Tari Jaipong,Piriang Badarai,Tari Pecak,Tari Pendet dan bahasa Indonesia semakin digemari oleh masyarakat internasional termasuk didalamnya adalah kuliner khas Nusantara.

2. Manusia sebagai makhluk sosial
Fitrah manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sentuhan sosial untuk berkomunikasi dengan manusia di dunia, manusia dilahirkan dengan naluri untuk menyatu dengan golongannya dan dimulai dengan perasaan primordial yang berbanding lurus dengan nasionalisme.Manusia yang hidup di wilayahnya masing-masing dapat dengan mudah berkomunikasi dengan manusia lainnya di belahan dunia tanpa harus menunggu waktu lama untuk berkomunikasi, begitupun dengan moda transportasi yang semakin canggih.Komunikasi yang berlangsung saat ini hanya mempersingkat waktu dan memperpendek jarak tem, sama halnya dengan transportasi banyak warga kalangan menengah keatas mampu tiba di banyak negara dalam satu hari untuk memenuhi tugas ataupun berlibur. Setelah beberapa hari di luar negeri dan pelajaran Indonesia diluar negeri mereka akan kembali ke negaranya masing-masing hal ini menunjukan bahwa globalisasi tidak mempengaruhi aspek sosial.

3. Globalisasi tidak akan berjalan secara sistematis dan mekanis karena proses tersebut hanya dikendalikan oleh manusia itu sendirii sehingga kita sebagai warga negara harus bisa menghayati dan mengendalikan dengan pemahaman rasional sehingga identitas kita sebagai warga negara tidak hilang begitu saja.
Ancaman serius Globalisasi yang harus kita waspadai adalah ancaman terhadap ekonomi,sosial dan politik. Negara kita sebagai pribumi memiliki kesenjangan ekonomi yang tinggi , menjamurnya pengusaha-pengusaha Cina di negara kita menyusutkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pribumi sehingga pemimpin negara harus bisa mengendalikan dan lebih mensejahterakan rakyatnya. Akibatnya banyak warga negara mencari nafkah ke luar negeri menjadi TKI untuk memburu dolar atau real dalam jumlah besar yang syarat dengan taruhan nyawa dan diskriminasi sosial, hal ini diakibatkan oleh tidak meratanya kesejahteraan ekonomi nasional.

Dari segi politik dan sosial pun saat ini sudah kita rasakan , ketidakpekaan pejabat birokrasi yang tida mendengar aspirasi rakyat menjadi alasan untuk menggemborkan anti Indonesia seperti Aceh,Timor Timur dan yang sedang hangat saat ini adalah Papua dengan gerakan Papua Merdeka. Belum lagi dengan Isu SARA dan agama yang sangat sensitif kadang dijadikan sebagai kendaraan politik untuk meningkatkan rating dan adu domba pihak berkepentingan terhadap kestabilan Indonesia.