Permainan Panggal dan Gasing dalam Perspektif Literasi Pendidikan

kedua permainan ini beda tipis tetapi syarat dengan makna dan keceriaan anak-anak
Literasi nyatanya tidak hanya bertolak ukur pada kemampuan membaca sebuah tulisan dan kemampuan menulis saja melainkan ada unsur yang bisa dikategorikan sebagai aset tetap yaitu kemampuan menyesuaikan dengan keberadaan lingkungan sekitar.
gambar gasing jabar
chemember.wordpress.com

Pembelajaran literasi hendaknya dilakukan melalui pendekatan Pedagogi yang bisa merangkul anak-anak untuk berperan aktif dalam pendidikannya. Salah satunya melalui media permainan , kita tidak akan jauh-jauh mengenai permainan zaman sekarang yang sangat tidak ekonomis dan terkesan menyesatkan. Kita bisa berkaca dari permaian tradisional yang syarat dengan nilai estetika dan makna dalam pendidikan. Baca juga : Permainan Beklen
Nah salah satu permainan yang sudah bertahan lama adalah permainan Gasing atau Panggal. Dilihat dari perspektif kebiasaan kedua permainan ini bisa dibilang sama akan tetapi justru sebaliknya walaupun perbedaannya tidak mencolok. Yang jelas permainan ini menambah kesan riang bagi anak-anak.
Panggal yang bagus terbuat dari kayu Galinggem ( bixa orelana ) dan berbetuk bundar menyerupai jamur kuncup dengan di bawahnya berupa tangkai dari logam (sejenis paku yang ditancapkan ). Dalam penggunaannya bisa dibedakan menjadi dua yaitu Panggal adu dimana untuk bertanding dan ada pula panggal hiburan biasanya berikan warna-warni yang beragam untuk nilai estetika.
Adapun Gasing biasanya mempunyai diameter sekitar 10 cm dengan garis tengah 5 cm , rongga bambu ditutup dengan kayu gabus sedangkan ditengahnya dipasang tangkai. Untuk permainan ini lebih didominasi dimainkan di wilayah Jawa terutama Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Kedua permainan ini dimainkan dengan melilitkan tali yang biasanya terbuat dari kulit kayu , benang gojer dan sejenis benang kuat kemudian dilempar ke area yang diinginkan. Ketika jatuh ke lantai akan memutar sangat kencang yang membuatnya tetap tegak . Jika putaran telah lambat maka gasing atau panggal akan terguling. Lahan tanah atau lantai 10 m2 sudah bisa menampung beberapa gasing atau panggal dan bisa diadu ketangkasan dengan yang lainnya.
Untuk panggal setidaknya ada dua teknik pemutaran yaitu Puncuh ( memutarkan panggal dengan cara lurus dari atas ke bawah dan jatuhnya lurus pada sasaran. Ada juga Kepang ( memutarkan panggal dengan cara dikepang supaya jatuhnya miring dan tepat sasaran ).
Setidaknya ada aturan dalam memainkan panggal ( khusus untuk pertandingan ) yaitu :
Pertama Pemenang yang memenangkan undian (sesuai kesepakan ) akan mendapatkan kesempatan pertama untuk menjatuhkan panggal lawan. Kedua Panggal diputar di seputar lingkaran apabila putaran itu terhenti dan masuk ke dalam lingkaran maka dinyatakan mati dan harus dihukum dengan cara menyimpannya di dalam lingkaran ( diabaikan ).Ketiga jika penggal yang dilempar tidak berputar maka statusnya juga mati . Keempat Pemain yang penggalnya belum mati maka diberikan kesempatan melanjutkan permainannya dengan mengarahkan penggalnya ke panggal musuh sehingga dinyatakan sebagai pemenang.
Kedua jenis permainan ini sudah mendarah daging di Indonesia sehingga pada acara-acara besar atau teman bermain anak ( umumnya tinggal di desa ) akan dilakukan dilapang terbuka hingga diikutsertakan dalam adu ketangkasan terutama acara 17 Agustusan. Untuk itu kita bisa melestarikan kesenian dan kebudayaan Indonesia ini sekaligus mengenalkan kepada anak dan cucu kita supaya tidak lupa peradaban.

Related Post

Next
Previous