Bencana Literasi , Fakta Gelap Pendidikan Indonesia

Jika kita melihat ke belakang pasti akan mengetahui reaksi masyarakat terhadap kejadian-kejadian alam yang sangat menyedihkan sekaligus terharu, bantuan logistik mengalir dari berbagai sudut dan media pun ikut menyoroti demi menaikan rating agar terlihat lebih seksi.

bencana literasi
kanalinfo.web.id

Tapi faktanya , masyarakat sangat bungkam dengan kejadian yang lebih hebat dari bencana alam yaitu krisis Literasi. Mereka menganggap hal ini adalah tanggung jawab seorang pendidik dan tenaga kependidikan dalam mencetak generasi yang lebih baik untuk kemajuan Indonesia. Dalam sekejap berbagai hastag #pray for Aceh #save sinabung dan sebagainya menghiasi dinding media sosial yang kian viral. Tapi apakah pernah kita membuat tagar #selamatkan Indonesia dari bencana Literasi ? tampaknya semua pada tutup mulut dan seolah-olah tuli dalam kritik tajamnya.

Dalam beberapa seminar banyak sekali pemerhati pendidikan berbicara bencana literasi di Indonesia yang kian meningkat , sebuah universitas yang akan melahirkan calon tenaga pengajar mengaku mengalami keterlambatan literasi.
Gambaran umum dari Taufik Ismail dalam tragedi nol buku merupakan ramalan yang akan terus berlanjut karena gerakan literasi belum begitu menjadi gerakan alam sadar dalam dunia pendidikan. Siswa-siswi pun jika dihadapkan dalam dua pilihan yaitu gorengan dan koran yang harganya 1000 setiap hari pasti akan memilih gorengan sebagai pilihan tajamnya.

Di dunia pendidikan dasar dan menengah penerapan literasi sejatinya masih sangat minim karena keterbatasan media dan kemauan dari diri pendidik , mereka lebih menuangkan dalam sifat lisan saja tanpa menekankan budaya membaca dan menulis. Belum lagi kehadiran game online yang menjadi primadona anak-anak kian mempengaruhi anak-anak untuk " membenci " buku.
Salah satu faktor utama dalam bencana literasi adalah lahir dari persepsi masyarakat yang dianggap sebagai budaya kalangan elit ke atas sehingga mereka merasa gengsi dan dicemoohkan. Padahal sejatinya kita dituntut untuk membaca supaya pengetahuan demi pengetahuan pun bisa disimpan dalam rekaman otak.

Walaupun hal ini dianggap remeh oleh sebagian besar masyarakat , namun faktanya literasi sangat berkaitan erat dengan tuntutan zaman yang syarat dengan budaya , ekonomi dan penguasaan teknologi.
Semoga tulisan awal di blog ini jadi titimangsa  untuk lebih menyadarkan kita betapa pentingnya belajar.